Sabtu, 03 Oktober 2026

Menakar Batas Pendisiplinan Peserta didik: Perlindungan Hukum Guru di Tengah Tantangan Kriminalisasi





Menakar Batas Pendisiplinan Peserta didik: Perlindungan Hukum Guru di Tengah Tantangan Kriminalisasi
Oleh: Wahyu Diyono, S.Pd., Gr.

Dunia pendidikan kita hari ini kerap dihadapkan pada situasi yang dilematis. Di satu sisi, guru dituntut untuk membentuk karakter, kedisiplinan, dan moralitas generasi muda. Di sisi lain, ruang gerak guru dalam memberikan sanksi edukatif kian menyempit.
 Fenomena pelaporan guru ke ranah hukum—atau yang sering kita sebut sebagai kriminalisasi guru—menjadi bayang-bayang kecemasan yang melanda para pendidik di ruang kelas.
Sebagai bagian dari insan pendidikan, kita perlu melihat fenomena ini dengan kepala dingin, berbasis pada regulasi yang berlaku, bukan sekadar respons emosional di media sosial. Publik, terutama orang tua atau wali murid, perlu memahami bahwa ada batas hukum yang jelas yang melindungi guru dalam menjalankan tugas profesionalnya.

Proses belajar-mengajar tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter (transfer of value). Ketika seorang siswa melakukan pelanggaran tata tertib, tindakan pendisiplinan—baik berupa teguran lisan, tugas tambahan yang mendidik, maupun pemindahan tempat duduk—adalah bagian dari proses belajar itu sendiri.
Tindakan ini bukan didasari oleh kebencian, melainkan bentuk kasih sayang seorang pendidik agar siswa memahami konsekuensi dari setiap perbuatan. Tanpa adanya ruang bagi guru untuk menegakkan kedisiplinan, marwah sekolah sebagai lembaga pembentuk karakter akan rapuh.


Banyak pihak yang belum menyadari bahwa negara sebenarnya telah memberikan payung hukum yang sangat kokoh bagi guru yang sedang menjalankan tugasnya.
  1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Pasal 39):
    Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Perlindungan tersebut mencakup perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
  2. 1. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (Pasal 40 & 41):
    Secara eksplisit disebutkan bahwa guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, tata tertib sekolah, dan peraturan perundang-undangan.
  3. 2. Yurisprudensi Mahkamah Agung (Putusan MA No. 1554 K/Pid/2013):
    Putusan ini menjadi landmark hukum penting yang menyatakan bahwa guru tidak dapat dipidana saat menjalankan tugasnya dan melakukan tindakan disiplin yang masuk akal terhadap muridnya.
Melalui regulasi ini, negara menegaskan bahwa selama tindakan yang dilakukan oleh guru berada dalam koridor edukatif, terukur, dan sesuai tata tertib sekolah, maka tindakan tersebut sah secara hukum dan tidak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana penganiayaan.
Sinergi dan Komunikasi: Kunci Mencegah Polarisasi
Kriminalisasi sering kali terjadi karena adanya sumbatan komunikasi. Potongan informasi atau video pendek yang beredar di media sosial kerap kali menghilangkan konteks utuh dari sebuah kejadian di sekolah.
Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara pihak sekolah, komite, dan orang tua. Orang tua perlu menaruh kepercayaan penuh pada proses pendidikan di sekolah. Jika terdapat kesalahpahaman, ruang dialog internal sekolah harus selalu diutamakan, alih-alih langsung menempuh jalur hukum atau memviralkannya di ruang publik.
Kesimpulan: Menjaga Marwah Pendidikan
Melindungi guru dari kriminalisasi bukan berarti membiarkan kekerasan terjadi di sekolah. Guru-guru Indonesia adalah profesional yang terikat oleh Kode Etik Guru. Namun, memberikan perlindungan hukum yang pasti bagi guru adalah syarat mutlak agar ekosistem pendidikan dapat berjalan dengan sehat dan aman.


Ketika seorang guru dapat mengajar tanpa rasa takut, maka energi terbaiknya akan sepenuhnya tercurah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mari kita bersama-sama menjaga marwah guru, demi masa depan pendidikan anak-anak kita.

Sabtu, 04 Juli 2026

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

PADANGSIDIMPUAN – Semangat kreativitas anak-anak tingkat Pendidikan Dasar di Kota Padangsidimpuan tampak terpancar dalam gelaran lomba mewarnai perdana yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Tri Laras. Kegiatan yang berlangsung secara gratis ini diadakan di Kelurahan Sitamiang Baru, Lingkungan III, Gang Nasional, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Sabtu 04/07/2026

Sebanyak lebih dari 30 peserta antusias mengikuti perlombaan ini. Menariknya, peserta yang hadir berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari anak-anak yatim dan piatu hingga peserta didik dari berbagai sekolah unggulan di Padangsidimpuan, seperti SDIT Nurul Ilmi, SDN 01 Padangsidimpuan, SDN 15 Padangsidimpuan, dan sekolah lainnya.

Kegiatan yang diinisiasi oleh pendiri sekaligus pimpinan Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan, Wahyu Diyono, ini bertujuan untuk mengasah bakat seni dan menumbuhkan kepercayaan diri peserta sejak dini. Meski dikemas dengan konsep yang sederhana, kegiatan perlombaan ini berlangsung sangat meriah dan penuh kesan bagi masyarakat setempat. Dan tak lupa Wahyu Diyono mengucapkan terimakasih kepada peserta lomba dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan yang sangat baik ini.

Seluruh peserta tampak serius namun ceria dalam memperebutkan gelar juara 1, 2, 3, hingga juara 4 yang telah disiapkan oleh sanggar.

Tanggapan positif mengalir deras dari para orang tua peserta. Pak Sabar, salah satu orang tua yang hadir mendampingi anaknya, mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan ini.

"Kegiatan ini sangat sederhana, namun sangat berkesan bagi kami. Kami sangat mengapresiasi langkah Pak Wahyu dan Sanggar Seni Tri Laras yang telah memfasilitasi anak-anak untuk berkarya secara gratis," ungkap Pak Sabar di sela-sela perlombaan.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat, Wahyu Diyono menyatakan komitmennya untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda yang berkelanjutan. Ia berharap, di tahun-tahun mendatang, kualitas acara akan terus ditingkatkan.

"Alhamdulillah, kegiatan perdana ini berjalan lancar. In Sya Allah, untuk tahun depan akan kita tingkatkan lagi kualitas penyelenggaraannya, termasuk dengan memberikan hadiah yang lebih menarik, baik itu berupa piala maupun bentuk apresiasi lainnya untuk memotivasi anak-anak," ujar Wahyu.

Keberhasilan acara perdana ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Sanggar Seni Tri Laras untuk terus berkontribusi dalam membina generasi muda yang kreatif dan inovatif di Kota Padangsidimpuan.

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

Tribun Padangsidimpuan

Minggu, 28 Juni 2026

Kolaborasi Seni Jaran Kepang Legendaris Menghipnotis Ratusan Pasang Mata

Kolaborasi Seni Jaran Kepang Legendaris Menghipnotis Ratusan Pasang Mata

Aek Pining Tapsel – Siapa sangka, perayaan pernikahan di Aek Pining hari ini bukan sekadar pesta syukuran, melainkan sebuah "medan magnet" budaya yang menyedot perhatian lintas generasi. Ketika dua sanggar kesenian, Endang Sewu dari Tapanuli Selatan dan Sanggar Tri Laras dari Padangsidimpuan, sepakat untuk bersatu, masyarakat lokal seolah tersihir. 

Kerinduan mendalam akan kesenian Jaran Kepang yang fenomenal akhirnya terbayar lunas dengan pertunjukan kolosal yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga membangkitkan aura magis yang selama ini terkunci dalam sejarah tradisi tanah kita.
Kesenian Jaran Kepang bukanlah sekadar tontonan bagi masyarakat Aek Pining; ia adalah napas identitas yang dicintai dari generasi ke generasi. Sang tuan rumah hajatan, yang sejak lama dikenal sebagai penggemar budaya kesenian ini, secara khusus mendatangkan kedua kelompok tersebut untuk merayakan momen bahagia keluarganya.


"Kami ingin menghadirkan sesuatu yang menyentuh akar budaya. Melihat Endang Sewu berpadu dengan Tri Laras adalah sebuah kerinduan yang akhirnya terbayar lunas hari ini," ujar salah satu kerabat keluarga penyelenggara dengan nada senang.


Puncak ketegangan terjadi saat irama gamelan mulai bertalu dengan tempo cepat, memicu suasana menjadi magis. Para pemain senior yang larut dalam energi pertunjukan mendadak mengalami trance (hilang kendali). Dalam kondisi yang tak terduga, beberapa pemain melesat keluar dari arena dan berlarian menuju tengah jalan raya, memicu riuh penonton yang terpaku sekaligus waspada.

Momen apik ini tidak berlangsung lama. Dengan cekatan dan penuh ketenangan, sang pawang segera mendekati pemain yang sedang dalam kondisi bawah sadar. Bisikan lembut di telinga sang pemain seolah menjadi mantra yang mengembalikan kesadaran mereka secara perlahan. Tak berselang lama, para pemain kembali ke arena utama, melanjutkan atraksi dengan harmoni yang lebih memukau, membuat penonton berdecak kagum akan kesaktian dan keprofesionalan mereka.


Di balik riuhnya alunan musik dan aksi panggung, kesenian ini memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga sekitar. Tim Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumut Padangsidimpuan yang memantau langsung di lokasi, mencatat geliat positif di sektor ekonomi kreatif. Sepanjang jalan menuju lokasi acara, deretan tenda pelaku Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) tampak dipadati pembeli.
Saat tim KMB menyambangi salah satu lapak UKM di pinggir arena, mereka bertanya tentang kondisi penjualan hari itu. "Lancar, Alhamdulillah. Acara seperti ini adalah berkah bagi kami para pelaku usaha kecil. Dagangan jauh lebih cepat habis dibandingkan hari biasanya," jawab sang pedagang dengan senyum lebar penuh rasa syukur.

Keberhasilan kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional seperti Jaran Kepang masih memiliki posisi istimewa di hati masyarakat. Tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, namun juga menjadi wadah pemersatu warga dan penggerak ekonomi mikro.


Kehadiran Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumut Padangsidimpuan di lokasi juga menegaskan komitmen untuk terus mengawal dan mendokumentasikan setiap aksi pelestarian budaya yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Endang Sewu dan Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan, agar nilai-nilai luhur ini tidak hilang ditelan zaman.

Kolaborasi Seni Jaran Kepang Legendaris Menghipnotis Ratusan Pasang Mata

Tribun Padangsidimpuan Senimantul.blogspot.com

KridaManunggalBudayaPsp.blogspot.com

Jumat, 26 Juni 2026

Sanggar Seni Mengukir Kebhinekaan di Hari Anti Narkotika Internasional 26 Juni 2026

Sanggar Seni Padangsidimpuan Mengukir Kebhinekaan di Hari Anti Narkotika Internasional 26 Juni 2026

PURWODADI PADANGSIDIMPUAN – Suasana lokasi di Purwodadi mendadak ramai dan penuh energi pada Jumat sore, 26 Juni 2026. Penampilan memukau dari kelompok seni Jaran Kepang Langen Budi Utomo (LBU) yang berkolaborasi dengan Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan berhasil menggetarkan suasana, menarik antusiasme berbagai masyarakat yang mendatangi lokasi acara.

Pertunjukan seni fenomenal ini diselenggarakan dalam rangka syukuran khitanan cucu dari salah satu seniman Jawa senior di Padangsidimpuan. Momentum ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), menjadikannya ruang positif bagi masyarakat untuk berkumpul dalam semangat kebhinekaan yang produktif dan bebas narkoba.

Selain sebagai ajang silaturahmi, pertunjukan ini menjadi simbol perlawanan terhadap penyalahgunaan narkotika. Melalui pelestarian budaya, para seniman mengajak masyarakat—khususnya generasi muda—untuk lebih produktif dan menjauhi barang terlarang. Semangat kebhinekaan yang terpancar dari para penonton yang berkumpul di lapangan menjadi pesan kuat akan persatuan bangsa yang sehat dan tangguh.

Kehadiran pertunjukan seni ini tidak hanya memanjakan mata penonton, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pelaku Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) yang berjejer rapi di sekitar lapangan.

Wahyu, selaku Founder sekaligus pemimpin Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan, mengungkapkan rasa syukur mendalam atas respons positif masyarakat.

"Alhamdulillah, kami melihat para pelaku UKM benar-benar merasakan manfaat dari titik lokasi kesenian kami tampil. Tadi kita lihat steleng (etalase) pedagang penuh, namun ketika acara selesai, dagangan mereka habis terjual. Ini adalah bukti nyata bahwa kesenian lokal mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan," ujar Wahyu dengan rasa syukur.

Antusiasme penonton tidak terbendung hingga akhir acara. Mang Komis, salah satu warga yang hadir, mengaku sangat terhibur dengan penampilan yang disuguhkan. Ia bahkan merasa durasi penampilan tersebut masih kurang panjang karena saking serunya pertunjukan.

"Seru sekali, Mas. Saya sangat senang bisa melihat masyarakat berkumpul dalam satu rasa kebhinekaan seperti ini. Harapan saya, kesenian seperti ini bisa rutin diadakan kembali agar terus bisa dinikmati oleh warga," tutur Mang Komis.

Pertunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian seni tradisional bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi instrumen efektif dalam mempererat silaturahmi sosial, menggerakkan ekonomi kreatif, sekaligus menjadi ajang edukatif dalam merayakan hidup sehat tanpa narkoba.

Sanggar Seni Mengukir Kebhinekaan di Hari Anti Narkotika Internasional

Tribun Padangsidimpuan

Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan.blogspot.com

Minggu, 21 Juni 2026

Sentuhan Seni di Tanah Harapan: Warga Huntap Taman Sari Batang Toru Ramaikan Penampilan Jaran Kepang

Sentuhan Seni di Tanah Harapan: Warga Huntap Taman Sari Batang Toru Ramaikan Penampilan Jaran Kepang

​BATANG TORU – Suasana Komplek Hunian Tetap (Huntap) Taman Sari, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), mendadak riuh dan semarak pada Minggu (21/6/2026). Ratusan warga memadati kawasan relokasi perumahan permanen bagi korban bencana banjir dan longsor tersebut untuk menyaksikan  pertunjukan budaya yang bersejarah: penampilan perdana kesenian Jaran Kepang di lingkungan Huntap Taman Sari Hapesong Baru.

​Pertunjukan hiburan tersebut menampilkan kolaborasi apik antara Sanggar Jaran Kepang Endang Sewu asal Tapanuli Selatan dengan Sanggar Tri Laras dari Kota Padangsidimpuan. Kehadiran dua sanggar kesenian ini menjadi magnet utama yang sukses menghidupkan suasana kawasan Huntap untuk pertama kalinya melalui pertunjukan seni tradisional.

​Acara yang digelar bertepatan dengan undangan syukuran khitanan salah satu masyarakat ini menjadi semakin istimewa karena jatuh bertepatan dengan momentum Peringatan Hari Krida Pertanian Indonesia dan Hari Musik Dunia 21 Juni 2026.

​Kehadiran partunjukan sanggar seni ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi bagi masyarakat setempat. Area di sekitar lokasi acara disemarakkan dengan jejeran stan Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) yang menjajakan berbagai produk unggulan.

​Kadir, salah seorang pelaku usaha yang berpartisipasi, mengungkapkan rasa syukur atas tingginya antusiasme masyarakat. Saat diwawancarai oleh perwakilan dari Pengurus Organisasi Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan, Kadir menegaskan bahwa kehadiran kegiatan ini memberikan dampak positif bagi para pedagang.

​"Ini adalah penampilan perdana kesenian di sini, dan kami sangat bersyukur. Kegiatan kesenian ini menjadi salah satu harapan besar bagi kami pelaku usaha, karena terbukti efektif mendongkrak penjualan dan menghidupkan kembali denyut ekonomi masyarakat," ujar Kadir.

​Pimpinan Sanggar Kesenian Endang Sewu, Pak Paiman, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada tuan rumah yang telah memberikan ruang bagi timnya untuk tampil pertama kali di lokasi tersebut. Antusias hangat warga Huntap memberikan kesan mendalam bagi para penampil.

​Senada dengan hal tersebut, Pimpinan Sanggar Tri Laras Kota Padangsidimpuan, Wahyu Diyono, S.Pd. Gr., turut mengungkapkan rasa syukurnya. Ia menilai, inisiatif masyarakat menghadirkan pertunjukan seni pada acara syukuran khitanan adalah langkah nyata dalam menjaga akar budaya.

​"Kegiatan di penampilan perdana dilokasi ini membuktikan bahwa masyarakat telah berperan aktif dan turut serta dalam pelestarian budaya. Kami sangat mengapresiasi semangat warga Huntap Taman Sari Hapesong Baru yang luar biasa dalam menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, ditambah lagi masyarakat nya yang sangat ramah-ramah, buat hati jadi senang," tutup Wahyu.

​Pertunjukan perdana ini ditutup dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, meninggalkan kesan positif bagi warga Huntap Taman Sari Hapesong Baru serta diharapkan dapat menjadi awal dari berbagai kegiatan seni budaya lainnya di masa depan.

Organisasi Paguyuban

Sumatera Utara  

Krida Manunggal Budaya

KMB Sumut Padangsidimpuan

Hapesong Baru Batang Toru

Penampilan Perdana di Huntap Taman Sari Tapsel: Kolaborasi Seni Endang Sewu dan Tri Laras Pukau Masyarakat serta Dongkrak Ekonomi

Seni Mantul Tribun Padangsidimpuan

DPD Kompas Budaya Literasi Sosialitas

Detik Budaya Lintas Etnis

Selasa, 16 Juni 2026

Sejarah Baru di Sitamiang Baru: Perdana Digelar, Dzikir 1 Muharram Masjid Nurul Huda Membakar Semangat Umat


Sejarah Baru di Sitamiang Baru: Perdana Digelar, Dzikir  1 Muharram Masjid Nurul Huda Membakar Semangat Umat

​PADANGSIDIMPUAN – Ada yang istimewa di Kelurahan Sitamiang Baru tahun ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Masjid Nurul Huda di Lingkungan IV berhasil mengadakan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H dengan agenda Dzikir Bersama yang berlangsung khidmat pada Selasa (16/06/2026).

​Langkah perdana ini diambil sebagai upaya nyata untuk menyemarakkan kalender hijriah di tengah masyarakat. Bukan sekadar seremonial, kegiatan ini hadir untuk mengingatkan kembali sejarah besar di balik 1 Muharram kepada seluruh jamaah generasi penerus yang hadir.

​Ketua BKM Nurul Huda, Nazaruddin Siregar, SH., mengungkapkan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan perdana ini. "Ini adalah kali pertama kita mengadakan perayaan khusus 1 Muharram dalam skala Dzikir Bersama. Sudah saatnya tahun baru Islam kita semarakkan, agar kita kembali mengingat dan agar generasi muda kita mengenal dan mencintai sejarah  1 Muharram ," ujar Nazaruddin dengan penuh semangat.

​Suasana khidmat mulai terbangun saat rangkaian acara dibuka dengan kata sambutan dan lantunan ayat suci Al-Qur'an. Tak berselang lama, irama dzikir mulai dilantunkan dengan nada yang tertata begitu indah, membawa setiap jamaah dalam suasana refleksi diri yang mendalam sebelum memasuki inti acara, yakni tausiyah.

​Dalam tausiyahnya, Ustadz Muhammad Alinapia Siregar, S.Pdi. M.Pd. (Ustadz MAS) mengupas tuntas hakikat hijrah. Beliau menekankan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan geografis dari Mekkah ke Madinah, melainkan sebuah transformasi spiritual yang revolusioner.

​"Hijrah adalah titik balik bagi setiap muslim untuk meninggalkan zona nyaman kemaksiatan menuju ketaatan yang lebih totalitas. Di tahun 1448 H ini, mari kita jadikan hijrah sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan mempererat kasih sayang sesama manusia (hablum minannas). Seorang mukmin yang sejati adalah mereka yang mampu berhijrah dari sifat egois menuju pribadi yang menebar manfaat bagi orang lain, serta dari ketidaktahuan menuju pemahaman agama yang inklusif dan rahmatan lil 'alamin," jelas Ustadz MAS.

​Lebih lanjut, beliau berpesan kepada para jamaah dan pemuda yang hadir bahwa tantangan zaman semakin berat. "Kalian adalah tonggak Islam. Hijrahlah dengan cara menuntut ilmu, berakhlak mulia, dan menjaga persatuan. Jangan biarkan perbedaan memecah belah, justru jadikanlah keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun peradaban umat yang lebih maju," tambahnya.

​Momentum bersejarah ini mendapat dukungan luas dengan hadirnya para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta rekan-rekan dari organisasi Paguyuban KMB (Krida Manunggal Budaya) Kota Padangsidimpuan. Kehadiran perwakilan dari BKM Masjid Al-Madani Lingkungan III juga menjadi simbol kuatnya persaudaraan antar-masjid di wilayah tersebut.

​Kekhusyukan ini kian sempurna dengan penampilan dari kelompok pengajian Ibu-ibu Madrasah setempat yang menambah semarak dakwah. Dengan kesuksesan agenda perdana ini, Masjid Nurul Huda telah memulai jejak baru dalam merawat tradisi, mengingat kan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di Kota Padangsidimpuan. Semoga langkah awal yang luar biasa baik ini menjadi keberkahan bagi seluruh masyarakat tetap terjaga.


Tribun Padangsidimpuan

Sejarah Baru di Sitamiang Baru: Perdana Digelar, Dzikir 1 Muharram Masjid Nurul Huda Membakar Semangat Umat

Kompas Budaya

Tribun Seni 16 Juni 2026

Kelurahan Sitamiang Baru

Padangsidimpuan 1 Muharram 2026 1448 Hijriah Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan

Minggu, 07 Juni 2026

Fenomenal! Pertunjukan Jaran Kepang di Batunadua Jae Sukses Hipnotis Ratusan Warga

Fenomenal! Pertunjukan Jaran Kepang di Batunadua Jae Sukses Hipnotis Ratusan Warga

PADANGSIDIMPUAN – Suasana di Kelurahan Batunadua Jae, Kota Padangsidimpuan, mendadak meriah dan penuh warna pada Minggu (7/6/2026). Ratusan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga para lansia, tumpah ruah memadati lokasi perhelatan untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional Jaran Kepang yang menarik.

Acara yang digelar bertepatan dengan momen istimewa hari ulang tahun putra dari Bapak Hutabarat ini, berhasil menjadi magnet bagi warga sekitar. Lebih dari sekadar perayaan syukur, kegiatan ini menjadi ajang pelestarian budaya yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam harmoni yang indah.

Pertunjukan Jaran Kepang yang fenomenal ini semakin semarak dengan kehadiran sejumlah tokoh legendaris serta maestro kesenian Jawa. Kehadiran mereka memberikan suntikan energi dan kualitas artistik yang tinggi, membuat setiap dentuman kendang dan lengkingan musik pengiring gamelan mampu menghipnotis para penonton yang hadir.

Kemeriahan ini juga diperkuat dengan penampilan dari berbagai sanggar kesenian ternama, di antaranya:

Pengurus Organisasi Paguyuban DPD Krida Manunggal Budaya (KMB) Padangsidimpuan

Sanggar Langen Budi Utomo dari Bakaran Batu Padangsidimpuan 

Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan

Serta perwakilan dari berbagai sanggar seni lainnya yang tersebar dari wilayah Padangsidimpuan.

Kehadiran para pegiat seni ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kebhinekaan tetap terjaga dengan kokoh melalui kesenian. Meski dikemas secara sederhana, penampilan ini mampu melahirkan semangat kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat Batunadua Jae Padangsidimpuan.


Pertunjukan ini berlangsung di tanggal yang sarat makna, yakni 7 Juni 2026, yang bertepatan dengan dua peringatan penting berskala global: Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) dan Hari Peduli Sedunia (World Caring Day).

Momen kebersamaan ini pun seolah menjadi manifestasi nyata dari nilai-nilai kedua peringatan tersebut. Sesuai dengan tujuan Hari Keamanan Pangan Sedunia yang dicanangkan PBB, acara ini menjadi ajang bagi warga untuk menjalankan UKM (Usaha Kreatif Masyarakat) yang aman dan sehat, sekaligus mempererat hubungan sosial sesuai dengan semangat Hari Peduli Sedunia yang menyoroti kekuatan empati dan kasih sayang.

Melalui aksi nyata dan empati yang terjalin dalam acara tersebut, pesan tentang pentingnya koneksi antar sesama untuk membawa perubahan positif terasa semakin relevan. Perayaan ini membuktikan bahwa dengan kepedulian dan pelestarian budaya, sebuah komunitas dapat terus tumbuh harmonis di tengah keberagaman.

Kegiatan pun diakhiri dengan suasana kekeluargaan yang kental, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh hadirin yang larut dalam kegembiraan kebudayaan dan persaudaraan.

Tribun Padangsidimpuan

Fenomenal! Pertunjukan Jaran Kepang di Batunadua Jae Sukses Hipnotis Ratusan Warga

07 Juni 2026