Sanggar Seni Padangsidimpuan Mengukir Kebhinekaan di Hari Anti Narkotika Internasional 26 Juni 2026
PURWODADI PADANGSIDIMPUAN – Suasana lokasi di Purwodadi mendadak ramai dan penuh energi pada Jumat sore, 26 Juni 2026. Penampilan memukau dari kelompok seni Jaran Kepang Langen Budi Utomo (LBU) yang berkolaborasi dengan Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan berhasil menggetarkan suasana, menarik antusiasme berbagai masyarakat yang mendatangi lokasi acara.
Pertunjukan seni fenomenal ini diselenggarakan dalam rangka syukuran khitanan cucu dari salah satu seniman Jawa senior di Padangsidimpuan. Momentum ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), menjadikannya ruang positif bagi masyarakat untuk berkumpul dalam semangat kebhinekaan yang produktif dan bebas narkoba.
Selain sebagai ajang silaturahmi, pertunjukan ini menjadi simbol perlawanan terhadap penyalahgunaan narkotika. Melalui pelestarian budaya, para seniman mengajak masyarakat—khususnya generasi muda—untuk lebih produktif dan menjauhi barang terlarang. Semangat kebhinekaan yang terpancar dari para penonton yang berkumpul di lapangan menjadi pesan kuat akan persatuan bangsa yang sehat dan tangguh.
Kehadiran pertunjukan seni ini tidak hanya memanjakan mata penonton, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pelaku Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) yang berjejer rapi di sekitar lapangan.
Wahyu, selaku Founder sekaligus pemimpin Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan, mengungkapkan rasa syukur mendalam atas respons positif masyarakat.
"Alhamdulillah, kami melihat para pelaku UKM benar-benar merasakan manfaat dari titik lokasi kesenian kami tampil. Tadi kita lihat steleng (etalase) pedagang penuh, namun ketika acara selesai, dagangan mereka habis terjual. Ini adalah bukti nyata bahwa kesenian lokal mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan," ujar Wahyu dengan rasa syukur.
Antusiasme penonton tidak terbendung hingga akhir acara. Mang Komis, salah satu warga yang hadir, mengaku sangat terhibur dengan penampilan yang disuguhkan. Ia bahkan merasa durasi penampilan tersebut masih kurang panjang karena saking serunya pertunjukan.
"Seru sekali, Mas. Saya sangat senang bisa melihat masyarakat berkumpul dalam satu rasa kebhinekaan seperti ini. Harapan saya, kesenian seperti ini bisa rutin diadakan kembali agar terus bisa dinikmati oleh warga," tutur Mang Komis.
Pertunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian seni tradisional bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi instrumen efektif dalam mempererat silaturahmi sosial, menggerakkan ekonomi kreatif, sekaligus menjadi ajang edukatif dalam merayakan hidup sehat tanpa narkoba.
Sanggar Seni Mengukir Kebhinekaan di Hari Anti Narkotika Internasional




Tidak ada komentar:
Posting Komentar